Era Baru Kolonialisme Start Up Anak Bangsa, masihkan diterima di Masyarakat kita??

By Admin 01 Mar 2020, 10:24:12 WIB Teknologi

Angin Taufan yang namanya Digital Transaksi yang masuk ke Indonesia sudah tak dapat dibendung. Masyarakat sudah kecanduan gaya hidup baru dalam beraktivitas, yakni; apapun serba online. Mulai dari belanja, transportasi hingga plesir, semuanya digital, memanfaatkan kecanggihan smartphone.

Menurut Data BPS per  2016, industri e-commerce di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh 17 persen. Momentum ini menjadi pendorong lahirnya raksasa bisnis baru, bernama startup. Bermula dari sebuah konsep, kini startup menjelma menjadi korporasi dengan valuasi di atas 1 miliar dolar AS, atau lebih dari Rp14,5 triliun, yang biasa disebut Unicorn.

Pemerintah pun berambisi membentuk Next Indonesia Unicorn. Indonesia telah memiliki empat unicorn: Go-Jek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak. Masihkah keempat unicorn tersebut milik Indonesia? Mari kita tengok.

Gojek menjadi startup pertama bergelar unicorn di 2016, dengan valuasi saat ini lebih dari Rp 70 triliun. Awal 2018, Alphabet, induk perusahaan Google bersama Temasek Holdings, KKR & Co, Warburg Pincus LLC dan platform online China Meituan-Dianping, mengguyurkan investasi senilai 1,2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp16 triliun (kurs Rp13.000) ke Gojek. Pada Februari, Astra International dan Global Digital Niaga (GDN) anak usaha Djarum Group, secara kolektif mengucurkan modal 1,2 miliar dolar AS.

Di 2016, Sequoia India, Northstar Group, DST Global, NSI Ventures, Rakuten Ventures dan Formation Group, KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital and Capital Group Private Markets, menanamkan investasinya 550 juta dolar AS. Di 2017, perusahaan raksasa teknologi China, Tencent menyuntikkan dana sebesar 1,2 miliar dolar AS ke Gojek.

Perusahaan penyedia layanan pariwisata Traveloka, dinobatkan menjadi unicorn setelah mendapatkan pendanaan dari perusahaan travel asal AS, Expedia senilai 350 juta dolar AS pada 2017. Saat ini total valuasi Traveloka diperkirakan mencapai lebih dari Rp 26,6 triliun.

Tokopedia menjadi unicorn setelah memperoleh investasi senilai 1,2 miliar dolar AS dari Alibaba pada 17 Agustus 2017. Sebelumnya, CyberAgent Venture menyuntikkan dana sebesar 700 juta dolar AS di 2011, dan Softbank Telecorp dua kali mengguyur modal dengan total 247 juta dolar AS pada 2014 dan 2016.

Bukalapak mendapatkan suntikan dana dari Emtek bersama dua perusahaan ventura asal AS, 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners, dengan angka yang tidak dipublikasikan.

Dengan besarnya investasi yang masuk, masih adakah ‘sisa’ kepemilikan para founder dari unicorn-unicorn di atas? Apakah investor asing hanya mengejar untung dari aktivitas e-commerce belaka atau ada yang lain?

Bukankah selain melakukan aktivitas bisnis, unicorn-unicorn tersebut dan jutaan e-commerce lainnya juga mengumpulkan data pelanggan sekaligus mem-profiling data-data tersebut sehingga mengetahui segala aktivitas, keinginan, hobby, dan favorit pelanggan? Bagaimana jika hal ini dikuasai asing?

Pada Mei 2017, the economist.com merilis sebuah tulisan yang berjudul “The world’s most valuable resource is no longer oil, but data”. Saat ini, data lebih penting daripada minyak. Sehingga banyak negara berlomba-lomba berburu data. Hal senada juga diucapkan Menkeu, Sri Mulyani. Apakah penguasaan data telah menjadi pintu masuk kolonialisme era baru?

Apakah dengan bebasnya investor asing mengguyurkan dana menguasai e-commerce kita, berarti kita telah membiarkan data rakyat kita dikuasai asing? Tidak adakah proteksi dari pemerintah atas hal itu? Apa pendapat Anda? What uou think?

Tunggu, semua yang disampaikan diatas memang menunjukkan bahwa penguasaan asing di Indonesia cukup menunjukkan taring dan cengkraman yang luar biasa di Indonesia. Mengapa harus dari kalangan “Asing” yang harus kita akui untuk dindonesia? Apakah para engineer dan kemampuan Analisa dan kinerja serta kecakapan dari anak-anak milenial di Indonesia tidak dapat bersaing dengan investor asing tersebut?

PT. Mapel Teknologi Indonesia, yang saat ini merasa perlu turut hadir di Indonesia untuk membangun suatu Market Place yang dapat bersinergi dengan UMKM, stakeholder perbankan dan perusahaan jasa keuangan lainnya untuk Bersama-sama membangun di Indonesia. PT. MTI memang merasa untuk mengalahkan investor asing itu tidak mudah dan memang bukan itu tujuan lahirnya Mapel Teknologi Indonesia saat ini, melainkan mencoba mengajak dan mengedukasi serta membangun komunitas untuk hasil karya anak bangsa dapat diterima di Masyarakat Indonesia terlebih mendapatkan  support dari stakeholder dan atau investor-investor dari negara kita sendiri.

www.mapel.co.id dalam waktu dekat akan hadir di Indonesia sebagai MarketPlace dengan slogan “Belanja Senang Harga Senang” yang hadir untuk berpartisipasi di Indonesia dan berharap mendapatkan kesempatan dan diterima oleh  seluruh warga negara Indonesia, karena maple.co.id akan berusaha menjangkau kalangan bawah hingga kalangan atas untuk dapat bertransaksi di marketplace yang saat ini sedang dalam persiapan launching di Indonesia.

Para Seller atau Buyer yang bertransaksi apapun di maple.co.id akan mendapatkan kesempatan dan penghargaan dari maple.co.id itu sendiri baik berupa point dan ataupun kesempatan Umroh. Serius? apa benar? apa iya? coba dipikirakan sendiri!. okay, kita  tunggu saja nantinya bagaimana peran maple.co.id hadir di Indonesia memberikan dampak yang berbeda buat kita pengguna marketplace maple.co.id imbuh Tommi Poltak Mario selaku salah satu founder dari maple.co.id itu sendiri

Dengan kesungguhan hati dan bantuan dari kita warga negara Indonesia, kiranya maple.co.id yang merupakan asli produk buatan Anak Bangsa dan tidak ada campur tangan pihak luar ini dapat diterima di Indonesia dan berharap dapat menjadi salah satu unicorn di Indonesia.

Bersaing dengan MarketPalce yang sudah exsis saat ini bukan menjadi pilihan lahirnya maple.co.id, namun turut serta berpartisipasi di Indonesia dan berusaha menjangka semua kalangan, kelengkapan service, jasa dan produk yang terdapat di marketplace maple, diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan dari warga dan masyarakat Indonesia bertransaksi di Mapel.co.id.

Kita Tunggu, kita lihat dan kita pelajari semua, benarkah Mapel.co.id memberikan service, jasa dan produk yang menguntungkan buat kita sebagia pengguna? What you think? Tungggu tanggal mainnya. Market place dari kita, unutk kita dan oleh kita ini bisa menjadi point yang berbeda dalam kebiasaan kita bertransaksi di area digital market.

Salam Hangat 
Management Mapel Teknologi Indonesia




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment